Minggu, 17 Maret 2013

Psikoterapi dan Konseling


Psikoterapi

Secara khusus psikoterapi merupakan teknik khusus untuk menyembuhkan penyakit mental atau kesulitan-kesulitan penyesuaian diri dalam kehidupan sehari-hari atau bermasyarakat berdasarkan unsur-unsur atau prinsip psikologis yang ada.

Tujuan Psikoterapi

1. Suportif            : menguatkan daya tahan mental yang telah dimiliki klien, dan meningkatkan kemampuan beradaptasi pada lingkungan sosial.
2. Re-edukatif            : mengubah pola prilaku dengan cara menghilangkan kebiasaan (habits) tertentu dan membentuk suatu pola perilaku kebiasaan yang menjadi lebih baik.
3. Rekonstruktif         : mengubah seluruh kepribadian yang dimiliki oleh klien, mendalami ketidaksadararan atau alam bawah sadar klien, dan menganalisis mekanisme defensif yang patologis.

Unsur Psikoterapi

Dalam psikoterapi terdapat delapan “parameter pengaruh” dasar yang mencakup unsusr-unsur lazim yang dikemukakan oleh Masserman (dalam Maulany, 1997), yaitu :

  1.   Peranan Sosial (“Martabat”) psikoterapis
  2.   Hubungan (persekutuan terapeutik)
  3.   Hak
  4.  Retrospeksi
  5. Re-edukasi
  6.  rehabilitasi
  7. Resosialisasi
  8. Rekapitulasi


Perbedaan Psikoterapi dan Konseling
  •  Klien yang menjalani konseling tidak di golongkan sebagai penderita gangguan mental dan dapat di golongkan sebagai individu yang normal, sedangkan klien yang menjalankan Psikoterapi merupakan orang yang mengalami gangguan psikis atau mental.
  •  Konseling bersifat edukatif, suportif, berorientasi kesadaran dan jangka pendek. Sedangkan psikoterapi bersifat rekonstruksi, konfrontif, berorientasi ketidak sadaran dan jangka panjang.
  • Dalam konseling Konseler bukanlah tokoh otoriter namun seseorang pendidik dan mitra dari klien dalam melangkah bersama untuk mencapai tujuan. Sedangkan dalam psikoterapi konseler tidaklah netral secara moral, melainkan memiliki nilai-nilai perasaan dan normanya sendiri, meskipun konseler tidak perlu memaksakan hal ini pada klien namun ia juga tidak menutupinya.
  •  Konseling lebih terarah dan terstruktur pada tujuan-tujuan yang begih terbatas dan konkret. Sedangkan psikoterapi lebih luas dan mengarah pada tujuan yang lebih lanjut.

Pendekatan Psikoterapi terhadap mental illness.

Ada Sembilan pendekatan psikoterapi terhadap mental illness yaitu sebagai berikut :
  1. Pendekatan Psikoanalisa: Banyak menekankan faktor ketidaksadaran dan berlandaskan pada pengaruh aspek biologis manusia.
  2.   Behavioristik: Menurut Ellis (Subandi dalam Tooyibi, M & Ngemron, M) , pendekatan yang cukup dekat dengan behavioristik adalah pendekatan kognitif, yang menekankan proses berpikir rasional dalam terapi. Pendekatan ini memandang manusia dari sudut perilaku yang tampak, yang bisa diobservasi dan dan dikuantifikasi.
  3.   Humanistik: Pendekatan ini sangat mementingkan nilai-nilai kemanusiaan pada diri seseorang.
  4. Client-Centered: Berlandaskan pada pandangan subjektif atas pengalaman manusia, terapi clien-entered menaruh kepercayaan dan meminta tanggung jawab yang lain besar kepada klien dalam menangani berbagai permasalahan.
  5.  Psikologi Transpersonal: Pendekatan terapi yang menekankan aspek spiritual dalam diri manusia.
  6.  Gestalt: Sebagian besar merupakan terapi eksperimental yang menekankan kesadaran dan integrasi, yang muncul sebagai reaksi melawan terapi analitik, serta mengintegrasikan fungsi jiwa dan badan.
  7. Transaksional: Model terapi kontemporer yang cndrung kea rah aspek-aspek kognitif dan behavioral, dan dirancang untuk membantu orang-orang dalam mengevaluasi putusan-putusan yang telah dibuatnya menurut kelayakan sekarang.
  8.  Rasional Emotif Terapi: Model terapi yang sangat menekankan peranan pemikiran dan sistem-sistem kepercayaan sebagai akar masalah-masalah pribadi.
  9.  Realitas: Model terapi yang dikembangkan sebagai reaksi melawan terapi konvensional. Terapi realitas adalah terapi jangka pendek yang fokus pada saat sekarang, menekankan kekuatan pribadi, dan pada dasarnya merupakan jalan di mana para klien bias belajar mencapai keberhasilan.

Bentuk Utama Terapi

Ada tiga bentuk ciri utama terapi menurut Nietzel (dalam Gunarsah, 1996) yaitu:

1. Dari segi proses :  berupa interaksi antara dua pihak, formal, profesional, legal dan menganut kode etik psikoterapi.
2.   Dari segi tujuan : untuk mengubah kondisi psikologis seseorang, mengatasi masalah psikologis atau meningkatkan potensi psikologis yang sudah ada.
3. Dari segi tindakan: seorang psikoterapis melakukan tindakan terapi berdasarkan ilmu psikologi modern yang sudah teruji efektivitasnya.


Daftar Pustaka :
-     James P. Chaplin, kamus Lengkap Psikologi terj. Kartini Kartono, judul asli “Dictionary of Pshychology” (jakatra:Rajawali,1999), 491.
-          D. Bachtiar Lubis & Sylvia D. Elvira, Penuntun Wawancara Psikodinamika dan Psikoterapi (Jakarta:Balai Penerbit FK UI,2005), 11-12.
-          Maulany, R.F (1997). Buku Saku psikiatri: Residen bagian psikiatri UCLA. Jakarta: Penerbit Buku kedokteran EGC.
-          Prof. DR.  H. Muhammad Surya. (2003). Buku Psikologi Konseling. Bandung: Pustaka Bani Quraisy
-          Prof. DR. Singgih D. Gunarsa. 1996. Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.

Kamis, 28 Juni 2012

Softlens Murah,wedges,heels and Hair Clip


Sekarang -②nd Mode - kini hadir dengan menyediaka berbagai kebutuhan yang anda perlukan. Kami menyediakan Softlens dengan harga murah, wedges, heels, dan  Hair clip.
LIST HARGA
Semua harga dibawah ini sudah mendapatkan bonus air Softlens 80ml atau tetes mata 10ml.
  • 1.   New Look Normal      85.000,-
  • 2 .      New Look Min           90.000,-
  • 3 .      X2 Fame Normal        85.000,-
  • 4 .      X2 Fame Min              90.000,-
  • 5 .      X2 Twist Normal        85.000,-
  • 6 .      X2 Twist Min              90.000,-
  • 7 .      X2 Pink                       90.000,-
  • 8.    X2 Flash Normal         95.000,-
  • 9.   X2 Flash Min              100.000,-
  • 10  X2 Gold Normal         100.000,-
  • 11.  X2 Gold Min              105.000,-
  • 12. X2 Black Normal        100.000,-
  • 13. X2 Black Min             105.000,-
  • 14. X2 Spice Normal        105.000,-
  • 15. X2 Spice Min              110.000,-
  • 16. Hair Clip                      350.000,- (panjang 50cm,bisa dicatok)
  • untuk wedges and heel harga dari 135an-185an. barang handmade tapi kualitas dijamin oke punya, bagi yang mau order hub: 224CEFB4 atau 08561530053  -②nd Mode -







      Jumat, 15 Juni 2012

      Its beautiful day, but I can’t see it



      Pada saat saya menonton video yang menceritakan kisah-kisah nyata tentang sebuah arti kehidupan, hati saya merasa terenyuh akan semangat juang, arti pengorbanan, arti berbagi, arti ketulusan, arti bertahan hidup, mengejar cita-cita dan arti kasih sayang. Ada beberapa video yang membuat saya meneteskan air mata seperti, video yang menampilkan sebuah pertunjukan music sekelompok anak TK yang memiliki ketidak sempurnaan fisik, mereka menyanyikan sebuah lagu yang memiliki sepengal makna “ibu dan ayah saya akan menjadi apa kelak dewasa nanti” dari cara mereka menyanyi, cara mereka menyampaikan isi dari lagu tersebut dan semangat mereka dalam bernyanyi memiliki arti yang berbeda-beda. Meskipun mereka memiliki kekurangan dalam hidupnya tapi mereka masih memiliki semangat juang dan memiliki mimpi untuk masa depannya kelak. Pada saat itulah air mata saya terjatuh dan hati saya terenyuh melihat video itu. Saya merasa bersyukur telah diberikan kesempurnaan dalam hidup.
      Video yang kedua menceritan sebuah pengorbanan seorang ayah yang berjuang untuk membahagiakan anaknya. Sang ayah berkorban dengan cara nekat untuk mencuri sebuah gitar yang akan diberikan kepada anaknya, akan tetapi pada saat sang ayah akan memberikan gitar tersebut tiba-tiba sang ayah mendapatkan musibah yang menghilangkan nyawanya sendiri hanya untuk menyelamatkan gitar yang akan diberikan kepada anaknya. Dari kisah ini dapat dilihat pengorbanan orang tua demi membahagiakan anaknya dia rela memberikan nyawanya sekalipun demi sebuah kebahagian anaknya. Selain itu ada juga sebuah video yang menceritakan ketulusan seorang ayah kepada anaknya. Pada saat sang ayah bertanya berkali-kali pada anaknya “apa itu?” kepada anaknya yang sedang membaca, sang anak menjawab pertanyaan ayahnya dengan memarahi karna dia merasa  kesal dengan sikap sang ayah yang bertanya berkali-kali tentang hal yang sama. Setelah itu tak lama kemudian sang ayah memberikan sebuah buku harian dan meminta sang anak untuk membacanya dengan lantang isi buku harian itu. Buku itu berisi “hari ini anak saya yang berumur 3 tahun bertanya sebanyak 21 kali kepada saya ‘apa itu’ dan sayapun menjawabnya sebanyak 21 kali dengan sabar dan memeluknya setiapkali ia bertanya ‘apa itu’ ”  dapat dilihat dan disimpulkan dari kedua video tersebut bahwa orang tua kita tidak pernah menginginan anaknya menderita, menanggis dan dengan penuh kesabaran dan kasih sayang mereka merawat kita dari kecil hingga kita dewasa tanpa mengharapkan imbalan sepeserpun. Kita tidak pernah tau pengorbanan apa saja yang telah orang tua kita lakukan demi kebahagiaan kita. Saya langsung teringat dan merasa sangat berterimakasih kepada kedua orang tua saya yang telah merawat dan membesarkan saya dengan penuh kasih sayang yang sangat besar (Terimakasih mah, pah atas kasih sayang kalian selama ini. I love you)
      Video selanjutnya mencerikan tentang perjuangan seorang penyandang cacat yang berjuang untuk tetap bertahan hidup, seorang perempuan yang dapat dikatakan mampu dan normal masih mau membantu seorang pengemis tua yang buta dengan menuliskan dipapan “Its  beautiful day, but I can’t see it” sehingga pengemis itu mendapatkan bantuan yang banyak dari orang-orang disekitarnya, dan video-video lainnya yang memiliki banyak makna.
      Makna yang saya ambil dari semua video yang saya saksikan adalah kita harus selalu bersyukur dengan apa yang telah kita dapatkan dalam hidup, jangan selalu mengeluh dan putus asa dalam meraih cita-cita, memotivasi, dalam hidup harus selalu bangkit ketika kita terjatuh karna kegagalan itu sebuah kesuksesan yang tertunda dan pasti akan kita raih apabila kita berkomitmen dalam menjalankannya. Harapan saya kedepannya adalah mejadi orang yang lebih baik lagi, mampu membahagiakan kedua orang tua, menjadi orang yang sukses, dan dapat mewujudkan semua cita-cita yang saya impikan. 

      Minggu, 22 April 2012

      Peluang Kerja dan Waktu Luang

      Mengubah Sikap Terhadap Pekerjaan. 

      Sikap (attitude) merupakan salah satu bahasan yang menarik dalam kajian psikologi, karena sikap sering digunakan untuk mera,alkam tingkah laku, baik tingkah laku perorangan; kelompok; bahkan tingkah laku bangsa. Sikap selain dapat berbentuk sikap perorangan (individual), juga dapat berbentuk sikap social. Sikap individual adalah sikap yang diyakini oleh individual tertentu, sedangkan sikap social adalah sikap yang diyakini (dianut) sekelompok orang terhadap suatu objek.
      Untuk membedakan sikap dengan aspek-aspek psikis lainnya, seperti pengetahuan (knowledge), keyakinan (belief), motif (motives), niat (intention), dan lain sebagainya, maka dapat di lihat beberapa ciri-ciri sikap seperti dibawah ini:

      1. Sikap selalu menggambarkan hubungan antara subyek dengan obyek. Tidak ada sikap yang tanpa obyek. Obyek ini bias berupa benda, orang, ideology, nilai-nilai social, lembaga masyarakat, dan sebagainya.
      2. Sikap tidak dibawa sejak lahir, tetapi “dipelajari” dan dibentuk berdasarkan pengalaman dan latihan. 
      3. Karena sikap dapat “dipelajari”,maka sikap dapat berubah-ubah, meskipun relative sulit berubah. 
      4. Sikap tidak menghilang walau kebutuhan sudah dipenuhi. Misalnya saja, seorang yang suka sate akan tetap menyukai sate meskipun ia telah kenyang makan sate. 
      5. Sikap tidak hanya satu macam saja, melainkan sangat beragam sesuai dengan obyek yang menjadi pusat perhatiannya. 
      6. Dalam sikap tersangkut juga factor motivasi dan perasaan. Hal inilah yang membedakan dari pengetahuan.

       Pembentukan sikap tidak terjadi begitu saja,melainkan melalui kontak social terus menerus antara individu dengan individu lain di sekitarnya. Dalam hubungan ini, factor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya sikap adalah:

      i. Faktot Intern, yaitu factor-faktor yang terdapat dalam diri individu, seperti selektivitas. Penyeleksian (selektivitas) diperlukan karena rangsangan yang dating dari luar (lingkungan) tidak seluruhnya dapt diresap oleh individu, oleh karena itu seseorang harus memilih rangsangan-rangsangan mana yang akan “diperdalam” dan rangsangan-rangsangan mana yang tidak ingin “diperdalam”.

      ii. Factor Ekstern, adalah factor-faktor yang terdapat diluar diri individu. Factor-faktor ini antara lain: 

      • Sifat obyek yang dijadikan sasaran sikap. 
      • Kewibawaan orang yang mengemukakan suatu sikap. 
      • Sifat orang-orang atau kelompok yang mendukung sikap tersebut. 
      • Media komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan sikap. 
      • Situasi pada saat itu dibentuk. 


       a. Memahami dan mendefinisikan nilai pekerjaan Suatu pekerjaan memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda oleh sebab itu setiap perusahaan memiliki cara tersendiri untuk melakukan seleksi atau penerimaan tenaga kerja baru. Didalam perusahaan juga memiliki bidang-bidang tersendiri atau pekerjaaan yang berbeda-beda seperti adanya seorang pemimpin perusahaan, pemimpin kepala bidang bagian (menejer), sekretaris, karyawan, OB dan sebagainya. Suatu nilai didalam pekerjaan merupakan hasil dari apa yang kita lakukan sepeti timbulnya kepuasan kerja, hasil kerja yang memuaskan, prestasi yang cemerlang dan sebagainya. 
      b. Menjelaskan apa yang dicari dalam pekerjaan 
      Kepuasan Kerja. 
      Adalah tenaga kerja yang puas dengan pekerjaannya merasa senang dengan pekerjaanya. Locke mencatat bahwa perasaan-perasaan yang berhubungan dengan kepuasan atau ketidak puasan kerja cenderung lebih mencerminkan penaksiran dari tenaga kerja tentang pengalaman-pengalaman kerja pada waktu sekarang dan lampau dari pada harapan-harapan untuk masa yang akan datang. Ada dua unsur penting dalam kepuasan kerja, yaitu nilai-nilai pekerjaan dan kebutuhan-kebutuhan dasar. 

      Factor-faktor Kepuasan Kerja. 

      1. Ciri-ciri intrinsik pekerjaan Menurut Locke, ciri-ciri intrisik dari pekerjaan yang menentukan kepuasan kerja ialah keragaman, kesulitan, jumlah pekerjaan, tanggung jawab, otonomi, kendali terhadap model kerja, kemajemukan dan kreativitas. Ada satu unsur yang dapat dijumpai pada ciri-ciri intrisik dari pekerjaan di atas, yaitu tingkat tantangan mental. 
      2. Gaji Penghasilan, Imbalan yang Dirasakan Adil Siegel & Lane mengutip kesimpulan yang diberikan oleh beberapa ahli yang meninjau kembali hasil-hasil penelitian tentang pentingnya gaji sebagai penentu dari kepuasan kerja, yaitu bahwa para sarja psikolog telah secara tradisional dan salah meminimasi pentingnya uang sebagai penentu kepuasan kerja. Ternyata, menurut hasil penelitian yang dilakukan Theriault, kepuasan kerja merupakan fungsi dari jumlah absolut dari gaji yang diterima, derajat sejauh mana gaji memenuhi harapan-harapan tenaga kerja, dan bagaimana gaji diberikan. 
      3. Penyeliaan Hasil penelitian menunjukan bahwa hanya ada satu ciri kepemimpinan yang secara konsisten berkaitan dengan kepuasan kerja, yaitu penenggangan rasa (consideration). Hubungan antara aspek-aspek lain dari penyeliaan dan kepuasan kerja adalah kurang jelas dan hasilnya saling bertentangan.

      c. Fungsi Psikologis dari pekerjaan Psikologi dalam pekerjaan berfungsi untuk melakukan seleksi tenaga kerja dan melakukan pememilih dan menyaring tenaga kerja yang benar-bener sesuai dengan kriteria yang dicari oleh sebuah perusahaan. Selain itu psikologi juga berfungsi untuk mengontol kestabilan kondisi lingkungan kerja, maksutnya para sarjana psikologi melakukan pengamatan atas setiap kegiatan para tenaga kerja apakah tingkat motivasi kerjanya meningkat \atau menurun sehingga mempegaruhi tingkat produksivitas diperusahan tersebut. 

      Proses dalam memilih pekerjaan
      Seorang individu membutuhkan pekerjaan untuk bertahan hidup atau memenuhi kebutuhanya sehari-hari. Biasanya mereka memilih suatu pekerjaan yang sesuai dengan keahlian yang mereka miliki. Dalam memilih pekerjaan manusia akan mau dan mampu untuk bekerja dengan baik bilamana ia ditempatkan pada posisi dengan jabatan yang sesuai dengan minat dan kemampuannya, serta bila mana ia bisa memenuhi kebutuhannya dengan melakukan pekerjaan itu. lni berarti bahwa perusahaan harus bisa menempatkan orang pada jabatan-jabatan yang sesuai dengan minat dan kemampuannya, dengan tidak lupa mempertimbangkan upaya pemenuhan kebutuhannya. 
       Sebelum di tempatkan pada posisi yang sesuai dengan minat dan kemampuanya, para calon tenaga kerja biasanya terlebih dahulu mengikuti seleksi yang diadakan oleh pihak perusahaan yang bertujuan untuk mencari calon tenga kerja yang memang benar-benar menguasai keahlian didalam bidang yang dicari oleh pihak perusahaan. ada enam tahapan yang harus dijalani oleh seorang calon tenaga kerja, yaitu: 

      1. Tahap penyerahan surat lamaran 
      2. Tahap wawancara awal 
      3. Tahap ujian psikotes (wawancara) 
      4. Tahap penilaian akhir 
      5. Tahap pemberitahuan wawancara akhir. 
      6. Tahap penerimaan 

      jika seorang individu sudah mampu melewati semua tahapan seperti diatas maka individu tersebut akan ditempatkan pada posisi dan porsi sesui dengan kemampuan yang ia miliki. Apabila dalam proses melakukan kegiatan bekerja individu tersebut merasakan tidak adanya kenyamanan dalam bekerja maka motivasi untuk bekerjanyapun rendah, dan hasil bekerjanyapun tidak sesuai dengan harapan. Banyak factor yang menyebabkan seseorang merasakan tidak adanya kenyamanan di lingkungan ia bekerja,yaitu: 

      • Suasana lingkungan kerja yang berisik (seperti bekerja dipabrik). 
      • Perusahan yang selalu menuntut karyawannya untuk bekerja lembur. 
      • Adanya konflik antar sesama karyawan atau dengan atasan. 
      • Jarak antara tempat tinggal dengan kantor yang terlalu jauh 
      • Gaji yang tidak sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan. 
      • Senioritas yang tinggi dilingkungan kerja. 

      Apabila beberapa factor diatas dirasakan oleh seorang pekerja, maka biasanya mereka melakukan tindakan pengunduran diri dan terus melaukan pencarian pekerjan yang benar-benar sesuai dengan apa yang mereka harapkan.

      Memilih pekerjaan yang cocok 
      KEPRIBADIAN 
      Kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu yang terdiri dari system psikofisik yang menentukan cara penyesuaian diri yang unik (khusus) dari individu terhadap lingkungan. (Gordon W.Allport,1937). Definisi dari Allport ini memberikan tempat yang khusus pada keunikan kepribadia yang dimiliki oleh setiap individu, tetapi juga berusaha menggeneralisasikan system yang terdapat pada manusia dalam upaya menyesuaikan diri dengan lingkungannya. 

      TEORI-TEORI KEPRIBADIAN 
      Secara umum ada empat (4) teori ataupun pendekatan untuk memahami kepribadian: 

      1. Pendekatan sifat dan jenis/tipe (type and trait approaches), yang memusatkan perhatiannya pada karakteristik manusia, seperti sifat yang malu-malu; keras kepala; dan lain sebagainya. Serta melihat bagaimana karateristik-karakteristik tersebut terorganisir menjadi suatu system. 
      2. Pendekatan dinamis (dynamic approaches), yang memberikan perhatian secara lebih khusus pada interaksi yang terjadi antara motif, dorongan (impuls) dan proses-proses psikologis 
      3. Pendekatan behavioral dan belajar (learning and behavioral approaches), yang memusatkan perhatiannya pada kebiasaan yang diperoleh melali pengkondisian dasar (basic conditioning) atau proses-proses belajar. 
      4. Pendekatan kemanusiaan (humanisti approaches), yang memberikan perhatian secara lebih khusus pada diri (self) dan pentingnya cara pandang subyektif manusia terhadap dunianya. 


      PENYESUAIAN DIRI 
      Kemampuan individu untuk menyamakan diri dengan harapan kelompok.individu yang sehat mestinya mampu memahami harapan kelompok tempat individu yang bersangkutan mejadi anggotanya dan melaukan tindakan yang sesuai dengan harapan tersebut. 
      Penyesuaian diri juga bias dipahami sebagai mengatur kembali ritme hidup atau jadwal harian. Orang yang memiliki penyesuaian diri yang baik adalah orang yang dengan cepat mampu mengelola dirinya menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi. Penyesuaian diri juga sering dipahami sebagai belajar hidup dengan suatu yang tidak dapat diubah. Orang memiliki penyesuaian diri yang baik bila bias menerima keterbatasan yang tidak dapat diubah. Sebenarnya dalam bahasa inggris, istilah penyesuaian diri memiliki dua kata yang berbeda maknanya, yaitu adaptasi (adaptation) dan penyesuaian (adjustment). Kedua istilah tersebut sama-sama mengacu pada pengertian mengenai penyesuaian diri, tetapi memiliki perbedaan makna yang mendasar. 

      KONDISI FISIK KERJA 
      Lamanya di perjalanan membuat seseorang telah lelah sebelum mencapai pekerjaan dan berakibat tidak baik terhadap disiplin kerja dan produktivitas. Rancangan kantor memberikan pengaruh pada produktivitas juga. Schultz (1982) mengajukan suatu hasil penelitian di Amerika Serkat tentang pengaruh dari kantor yang dirancang seperti pemandangan alam. Keluhan utama tentang kantor-kantor ‘pemandangan alam’ ini berkaitan dengan tidak adanya keleluasaan pribadi, adanya banyak kebisingan dan kesulitan untuk berkonsentrasi. Disamping masalah parkiran, lokai, ruang kantor, masalah rancangan ruang kerja diteliti juga secara luas tentang factor-faktor lingkungan yang spesifik, antara lain tentang penerangan atau iluminasi, warna, kebisingan, dan music. 

      a. Iluminasi (Penerangan) 
      Bekerja dalam kamar yang terang akan berbeda dengan bekerja dalam kamar yang remang-remang cahayanya. Beberap factor yag perlu diperhatikan dalam iluminasi ialah : kadar (intensity) cahaya, distribusi cahaya, dan sinar yang menyilaukan. 
      b. Warna 
      Erat kaitannya dengan iluminasi ialah penggunaan warna pada ruangan dan peralatan kerja. Banyak orang memberikan makna yang tinggi kepada penggunaan warna atau kombinasi warna yang tepat untuk ruangan-ruangan dirumah, di kantor, dan di pabrik. Mereka berpendapat bahwa penggunaan warna atau kombinasi warna yang tepat dapat meningkatkan produksi, menurunkan kecelakaan dan kesalahan, dan meningkatkan semangat kerja. 
      c. Bising (Noise) 
      Bising biasanya dianggap sebagai bunyi atau suara yang tidak diinginkan, yang menggangu, yang menjengkelkan. Namun batasan seperti ini kurang memuaskan, karena tidak ada dasar yang jelas untuk menyatakan kapan sesuatu bunyi tidak diinginkan. 
      d. Music dakam kerja 
      Sejak tahun1940-an banyak perusahaan di Amerika Serikat mulai mendengarkan music yang mengiringi, sebagai latar belakang, para karyawan bekerja. Sebagaimana halnya dengan warna,banyak yang berpendapat bahwa music yang mengiringi kerja dapat meningkatkan produktivitas karyawannya. Hasil penelitian tidak menunjukan hasil yang tegas tentang hal ini. Pada umumnya para tenaga kerja bekerja dengan perasaan senang, bekerja lebih keras, tidak banyak absen, dan kurang merasa lelah pada akhir hari kerja. Music tampaknya memiliki pengaruh yang baik pada pekerjaan-pekerjaan yang sederhana, rutin dan monoton, sedangkan pada pekerjaan yang lebih majemuk dan memerlukan konsentrasi yang tinggi pada pekerjaan, pengaruhnya dapat menjadi sangat negative. 

      Dari beberapa penjelasan dan factor diatas dapat disimpulkan bahwa dalam memilih suatu pekerjaan seorang individu harus pintar-pintar melakukan penyesuaian diri terhadap suatu lingkungan baru dimana ia bekerja agar dapat menciptakan suasana kerja yang kondusif dan nyaman. Selain itu apabila seorang individu sudah pernah merasakan kondisi-kondisi dimana ia bekerja tidak adanya kenyamanan dan akhirya ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan itu maka individu tersebut akan lebih berhati-hati dalam memilih pekerjaan yang berikutnya. Ia lebih teliti atau lebih peka terhadap suatu bidang pekerjaan yang akan dia cari dan melakukan survey secara tidak langsung (mencari informasi tentang kondisi perusahaan yang berkaitan). Apabila dia sudah merasa yakin dengan kondisi dan system-sistem diperusahan tersebut maka ia baru merasa mau untuk bekerja diperusahaan tersebut. Jadi lingkungan kerja atau kondisi kerja dapat mempengaruhi cocok atau tidaknya seseorang didalam perusahaan atau didalam bidang pekerjaan yang ia tekuni. 

       Narasumber: 

      1. Psikologi, Pekerjaan social dan ilmu kesejahteraa social, (Dra, Isbandi Rukminto Adi,MPH) 
      2. Jurnal Analisis Jabatan, (SUGIH ARTO PUJANGKORO, Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara) 
      3. Psikologi Industri dan Organisasi, (Ashar Sunyoto Munandar). 
      4. Kesehatan Mental, konsep; cakupan; dan perkembangannya, (Siswanto,S.Psi.,M.Si)

      Sabtu, 07 April 2012

      Live Through This (Kekuatan Cinta Seorang Ibu)

      Live Through This (Kekuatan Cinta Seorang Ibu)
      Live Thorough This sebuah buku yang menceritakan tentang perjalanan hidup seorang ibu yang berjuang untuk memahami jiwa anak, makna hidup dan akhirnya dirinya sendiri. Semenjak ia bercerai dari suaminya, dua anaknya yang bernama Amanda dan Stephani, selalu membuat masalah, mulai dari menyulut kebakaran di sekolah sampai akhirnya keduanya melarikan diri dan hidup di jalanan. Mereka menjalani kehidupan jalanan yang bebas dengan segala keburukannya, mulai dari memberikan mereka kemudahan untuk mendapatkan bir, narkoba, tinta untuk tato, cat rambut manic panic segala macam warna, paku-paku logam, dan sudut-sudut paling tepat untuk memperoleh uang dari orang tak dikenal. Mereka memilih hidup seperti itu dikarnakan mereka merasa kecewa atas perpisahan kedua orang tuanya, merasa kurang kasih sayang dan perhatian dari sang ibu yang harus berjuang dengan segala keterbatasannya sebagai orang tua tunggal dan pencari nafkah. Ketika kedua putrinya melakukan pemberontakan sang ibu tidak bisa menutupi rasa kekecewaannya, namun dibalik rasa kekecewaannya itu rasa cinta yang begitu besar sangat mendorong sang ibu untuk merangkul kedua putrinya kembali dan menjalani kehidupan yang normal seperti sebelum adanya perceraian yang di alami sang ibu.
      Buku ini sangat menggambarkan bahwa anak yang menjadi korban dalam perpisahan kedua orang tuanya. Tidak sedikit perpisahan atau perceraian yang berujung baik untuk kondisi perkembangan mental dan kejiwaan seorang anak. Pada dasarnya seorang anak belajar dari apa yang dia lihat dan menjadi sebuah kebiasaan apa yang terlihat di depannya. Lingkungan pertama anak untuk belajar adalah lingkungan keluarga, jadi apa bila keluarga tidak memberikan contoh yang baik maka pertumbuhan anak pun tak sempurna. Anak akan mencari jati dirinya sendiri dan mencari kekurangan yang ia rasakan atau mencari kasih sayang yang ia tidak dapatkan di dalam lingkungan keluarga. Biasanya, kebanyakan remaja akan lebih merasa nyaman di dalam lingkungan yang bisa membuat dia tenang, senang dan melupakan permasalahan yang sedang ia hadapi meskipun lingkungan itu memberikan pengaruh yang merusak dirinya sendiri. Seperti cerita yang digambarkan di dalam buku Live Through This.

      Derba Gwartney – Live Through This

      Cara membuat Goody Bag yang lucu-lucu dan murah

      Cara membuat Goody Bag yang lucu-lucu dan murah

      Alat dan Bahan


      1. Kertas kado
      2. Kater
      3. Pensil
      4. Gunting
      5. Penggaris
      6. Double tip

      Cara Membuat


      1. buatlah terlebih dahulu design atau pola dengan ukuran yang ingin di buat.

      2. Lalu lipatlah pada bagian-bagian yang telah di beri tanda seperti pada gambar di atas (yang telah digaris-garis).

      3. Apa bila telah dilipat semua berikan double tip pada bagian lebar 1,5cm, kemudian rekatkan pada bagian 10 cm paling kanan.


      4. Kemudian karter bagian bawah goody bag yang telah di rekatkan dan kemudian rekatkan kembali dengan double tip.

      5. Selamat mencoba.
      Hasil akhir/ Hasil jadi.

      Sabtu, 24 Maret 2012

      KESEHATAN MENTAL

      1) Konsep Sehat dan Dimensinya

      Konsep kesehatan tidak pernah dapat dilepaskan dari pengaruh sejarah dan kemajuan kebudayaan. Makna sehat dan sakit ternyata dipengaruhi oleh peradaban. Budaya barat dan timur ternyata memiliki perbedaan yang mendasar mengenai konsep sehat-sakit. Perbedaan ini kemudian memengaruhi system pengobatan di kedua kebudayaan. Akibatnya, pandangan mengenai kesehatan mental juga berbeda.

      A. PENGARUH BUDAYA TERHADAP KONSEP SEHAT DAN SAKIT SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP PRILAKU.

      1. Pengertian Kesehatan
      Sehat dan kesehatan tidak pernah dibahas secara eksplisit sehingga istilah kesehatan bahkan tidak tercantum di dalam indeks buku Joesoef, 1990. Freud (1991) dengan mengutip the international Dictionary of Medicine and Biology, mendefinisikan kesehatan sebagai “suatu kondisi yang dalam keadaan baik dari suatu organisme atau bagiannya, yang dicirikan oleh fungsi yang normal dan tidak adanya penyakit”, juga pada kesimpulannya mengenai kesehatan sebagai suatu keadaan tidak adanya penyakit sebagai salah satu ciri kalau organisme disebut sehat.
      2. Pengaruh Budaya Terhadap Konsep Kesehatan
      Bidang psikologi (kepribadian) sekarang ini mengembangkan pandangan yang baru mengenai apa yang disebut sebagai “kepribadian yang sehat”. Pandanagn ini berbeda dengan pandangan psikologi yang tradisional (misalnya psikoanalisa dan behaviorisme), dalam cara memandang kodrat manusia. Pada psikologi tradisional, konsep tentang sehat kurang lebih mirip dengan konsep mengenai kesehatan seperti yang dikemukakan di atas, yaitu tidak adanya gejala-gejala yang cukup untuk memasukan individu kedalam kategori gangguan (kepribadian) tertentu. Atau dengan kata lain, kepribadian sehat bertitik tolak dari apakah individu tersebut berbeda dari mereka yang nyata-nyata terganggu atau tidak. Dilihat dari segi pandang statistic, kepribadian sehat adalah kepribadian individu umumnya, yang bila digambarkan secara statistic berada didalam kurva normal. Sementara kepribadian tidak sehat adalah kepribadian yang berada di luar kurva normal tersebut. Pandanagn baru dalam memahami kepribadian yang sehat bukan hanya dari segi apakah pribadi tersebut berfungsi secara normalseperti pada umumnya,tapi lebih menekankan pada apakah potensi-potensi yang dimiliki bias dikembangkan secara optimal ataukah tidak. Oleh karna itu untuk membedakan pengeritan sehat yang Di pakai oleh umun dengan sehat yang betul-betul sehat, pandanagn ini memperkenalkan istilah “adisehat” atau adinormal untuk mengelompokkan orang-orang yang berbeda dari masyarakat umumnya tetapi yang betul-betul mampu mengaktualkan segenap potensi yang dimilikinya (Schultz,1993).
      3. Model-model Kesehatan : Antara Model Barat dan Model Timur
      Model kesehatan Barat yaitu model biomedis atau yang sering disebut sebagai model medis (Joesoef,1990; Freud, 1991, Helman, 1990, Tamm,1993), model Psikiatris (Helman,1990), dan model psikosomatis (Tamm,1993). Model kesehatan Timur umumnya disebut model kesehatan holistic (Joesoef,1990) yang menekankan pada keseimbangan (Helman,1990)
      Model biomedis adalah berakar jauh pada pengobatan tradisional Yunani. Pengobatan ini dipengaruhi oleh filosofi Yunani, terutama dari pemikiran plato dan Aristoteles yang bersifat abstrak dan sistematis serta dijalankan rasional dan logis.
      Model biomedis (Freud,1991) memiliki 5 asumsi. Asumsi pertama adalah bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara tubuh dan jiwa sehingga penyakit diyakini berada pada suatu bagian tubuh tertentu. Asumsi kedua adalah bahwa penyajit dapat direduksi pada gangguan fungsi tubuh, entar secara biokimia atau neurofisiologis. Asumsi ketiga adalah keyakinan bahwa setiap penyakit disebabkan oleh suatu agen khusus yang secara potensial dapat didefinisikan. Asumsu keempat adalah melihat tubuh sebagai suatu mesin. Asumsi kelima adalah konsep bahwa tubuh adalah objek yang perlu diatur dan dikontrol.
      Model psikiatris (Helman,1990), sebenarnya masih berkaitan dengan model biomedis. Model ini pada dasarnya masih mendasarkan diri pada pencarian bukti-bukti fisik dari suatu penyakit dan penggunaan treatmen fisik (obat-obatan atau pembedahan) untuk mengoreksi abnormalitas.
      Model psikosomatis (Tamm,1993), merupan model yang muncul kemudian karena adanya ketidak puasan terhadap model biomedis. Model ini dikembangkan oleh Helen Flanfers Dunbar sekitar tahun 1930-an.

      B. BERBAGAI PEMAHAMAN MENGENAI KESEHATAN MENTAL
      1. Ciri-ciri Tingkah Laku Sehat atau Normal
      Tingkah laku yang normal seringkali kurang mendapatkan perhatian karena tingkah laku tersebut dianggap wajar, sedangkan tingkah laku abnormal biasanya lebih mendapatkan perhatian karena biasanya tidak wajar dan aneh.

      Adanya ciri-ciri individu yang normal atau sehat (Warga,1983) pada umumnya adalah sebagai berikut :
      1. Bertingkah laku menurut norma-norma social yang diakui.
      2. Mampu mengelola emosi
      3. Mampu mengaktualkan potensi-potensi yang dimiliki.
      4. Dapat mengakui kebiasaan-kebiasaan social
      5. Dapat mengenali risiko dari setiap perbuatan dan kemampuan tersebut digunakan untuk menuntun tingkah lakunya.
      6. Mampu menunda keinginan sesaat untuk mencapai tujuan jangka panjang.
      7. Mampu belajar dari pengalaman
      8. Biasanya gembira.

      Harber dan Runyon (1984), menyebutkan sejumlah ciri individu yang bias dikelompokkan sebagai normal adalah sebagai berikut:
      1. Sikap terhadap diri sendiri. Mampu menerima diri sendiri apa adanya.
      2. Persepsi terhadap realita. Pandangan yang realitas terhadap diri sendiri dan dunia sekitar yang meliputi orang lain maupun segala sesuatunya.
      3. Integrasi. Kepribadian yang menyatu dan harmonis, bebas dari konflik-konflik batin.
      4. Kompetensi. Mengembangkan keterampilan mendasar berkaitan dengan aspek fisik, intelektual, emosional, dan social untuk dapat melakukan koping terhadap masalah-masalah hidup.
      5. Otonomi. Memiliki ketetapan diri yang kuat, bertanggung jawab, dan penentua diri dan memiliki kebebasan yang cukup terhadap pengaruh social.
      6. Pertumbuhan dan aktualisasi diri. Mengembangkan kecenderungan kea rah peningkatan kematangan, pengembangan potensi, dan pemenuhan diri sebagai seorang individu.
      7. Relasi interpersonal. Kemampuan untuk membentuk dan memelihara relasi interpersonal yag intim.
      8. Tujuan hidup. Tidak terlalu kaku untuk mencampai kesempurnaan.

      2. Berbagai pendekatan Berkaitan dengan Normal-Abnormal
      Pada umumnya ada beberapa pendekatan yang digunakan untuk menentkan apakah seseorang termasuk dalam kategori sehat secara mental ataukah tidak.
      a. Pendekatan Statistik
      Pendekatan ini beranggapan bahwa orang yang sehat secara mental/normal adalah orang yang melakukan tingkah laku yang umumnya dilakukan oleh banyak orang lainnya.
      b. Pendekatan Normatif
      Pendekatan ini melihat orang sehat secara mental berdasarkan apakah tingkah laku orang tersebut menyimpang dari norma social yang berlaku di masyarakat (devian) ataukah tidak.
      c. Pendekatan Distress Subjektif
      Pendekatan ini beranggapan orang dianggap normal atau sehat bila dia merasa sehat atau tidak ada persoalan dan tekanan yang mengganggunya. Kelemahan pendekatan ini adalah karena menekankan pada subjektivitas individu mengakibatkan tidak ada ukuran yang pasti sehingga semuanya menjadi serba relative, tergantung pada situasi yang dihadapi.
      d. Pendekatan Fungsi/Peranan Sosial
      Pendekatan ini melihat normal atau sehat tidaknya seseorang berdasarkan mampu atau tidaknya orang tersebut menjalankan kegiatan harinya. Kelemahan pendekatan ini adalah tidak semua orang bias dikatakan normal meskipun dia mampu menjalankan fungsi dan peranan.
      e. Pendekatan Interpersonal
      Pendekatan ini melihat normal atau sehat tidaknya seseorang atau apakah orang tersebut mampu menyesuikan diri dilihat berdasarkan kemampuan seseorang untuk menjalani hubungan yang interpersonal dengan orang lain. Pendekatan ini pun memiliki kelemahan. Tidak selalu orang yang menyendiri itu tidak sehat atau tidak normal dan tidak mampu menyesuaikan diri.



      2) Sejarah Perkembanagn Kesehatan Metal
      Sejarah kesehatan mental tidaklah sejelas sejarah ilmu kedokteran. Ini terutama karena masalah mental bukan merupakan masalah fisik yang dengan mudah dapat diamati dan dilihat. Berbeda dengan gangguan fisik yang dapat dengan relative mudah dideteksi, orang yang mengalami gangguan kesehatan mental sering kali tidak terdektesi, sekalipun oleh anggota keluarganya sendiri.

      A. GANGGUAN MENTAL TIDAK DIANGGAP SEBAGAI SAKIT

      ● (Tahun 1600 dan sebelumnya)

      Dukun asli Amerika (Indian), sering juga disebut sebagai “penyembuh” (healer, shaman) orang yang mengalami gangguan mental dengan cara memanggil kekuatan supranatural dan menjalani ritual penebusan dan penyucian. Pandangan masyarakat saat itu menganggap bahwa orang yang mengalami gangguan mental adalah karena mereka dimasuki oleh roh-roh yang ada disekitar.

      ● Tahun 1692

      Sejarah kesehatan mental di Eropa, khususnya Inggris, agak sedikit berbeda. Sebelum abad ke-17, orang gila disamakan dengan penjahat/criminal, sehingga mereka dimasukkan kedalam penjara
      Jhon Locke (1690) dalam tulisannya yang berjudul An Essay Concerning Understanding, menyatakan bahwa terdapat derajad kegilaan dalam diri setiap orang yang disebabkan oleh emosi yang memaksa orang untuk memunculkan ide-ide salah dan tidak masuk akal terus menerus. Kegilaan adalah ketidak mampuan akal untuk mengeluarkan gagasan yang berhubungan dengan pengalaman secaratetap. Pandangan John Locker ini bertahan di Eropa sampai abad ke-18.

      B. GANGGUAN MENTAL DIANGGAP SEBAGAI SAKIT

      ● Tahun 1724
      Pendeta Cotton Mather (1663-1728) mematahkan takhayul yang hidup di masyarakat berkaitan dengan sakit jiwa dengan memajukan penjelasan secara fisik mengenai sakit juwa itu sendiri. Pada saat ini benih-benih pendekatan secara medis mulai dikenalkan, yaitu dengan memberikan penjelasan maslah kejiwaan sebagai akibat gangguan yang terjadi di tubuh.

      ● Tahun 1812
      Benjamin Rush (1745-1813) menjadi salah satu pengecara mula-mula yang menangani masalah penanganan secara manusiawi untuk penyakit mental dengan publikasinya yang berjudul Medical Inquiris and Observations Upon Diseases of the Mind. Ini merupakan buku teks psikiatris Amerika pertama.



      ● Tahun 1843
      Kurang lebih terdapat 24 rumah sakit, tapi hanya ada 2.561 tempat tidur yang tersedia untuk menangani penyakit mental di Amerika Serikat

      ● Tahun 1980
      Clifford Beers (1876-1943) menderita manis depresif pada tahun 1900. Dia merupakan lulusan Yale dan seorang bisnisman, yang kemudian mengalami gangguan setelah mengalami sakit dan saudara laki-lakinya meninggal. Pada tahun 1908 dia menulis buku yang berjudul A Mind ThatFound Itself, merupakan laporan pengalamannya sendiri sebagai pasien sakit mental dan secara jelas menggambarkan kekejaman lembaga perawatan. Beers kemudian mendirikan masyarakat Connecticut untuk mental Higiene yang kemudian pada tahun berikutnyaberubah menjadi komite Nasional untuk mental Higiene (the National Committee for mental Hyggiene), yang merupakan pendahulu Asosiasi kesehatan mental Nasional (National Mental Healt h Association) sekarang ini.

      Tujuan asosiasi ini adalah untuk :

      - Memperbaiki sikap masyarakat terhadap penyakit mental dan penderita sakit mental
      - Memperbaiki layana terhadap penderita penyakit mental
      - Bekerja untuk pencegahan penyakit mental dan mempromosikan kesehatan mental

      ● Tahun 1909
      Sigmun Freud mengunjungi Amerika dan mengajar psikoanalisis di Universitas Clark di Worcester, Massachusetts

      ● Tahun 1910
      Emil kraepelin ppertama kali menggambarkan penyakit Alzheimer. Dia juga mengembangkan alat tes yang dapat digunakan untuk mendekesi adanya gangguan epilepsy.

      ● Tahun1918
      Asosiasi Psikoanalisis Amerika membuat aturan bahwa hanya orang yang telah lulus dari sekolah kedokteran dan menjalankan praktek psikiatris yang dapat menjadi calon untuk penelitian psikoanalisis.

      ● Tahun 1920-an
      Harry Stack Sullivan yang mengawasi pasien schizophrenia di Rumah sakit Sheppard-Pratt Hospital menunjukan pengaruh lingkungan terapeutik ketika parapasien dapat di kembalikan ke masyarakat. Pada tahun 1920-1930 di Eropa terjadi perubahan treatme dalam mengalami gangguanmental. Perubahan ini berkat pengaruh teori freud yang pada masa itu menjadi terkenal. Perubahan treatmen tersebut meliputi :
      a. Treatmen di dalam rumah sakit kurang diminati, diganti treatmen yang dilakukan diluar rumah sakit.
      b. Treatmen dilakukan tidak memerlukan sertifikasi
      c. Treatmenn dilakukan dirumah pasien

      ● Tahun 1930-an
      Psikiater mulai menginjeksikan insulin yang menyebabkan shock dan koma sementara sebagai suatu treatmen untuk penderita schizophrenia.

      ● Tahun 1936
      Agas monzi mempublikasikan suatu laporan mengenai lobotomy frontal manusia yang pertama. Akibatnya antara tahun 1936 sampai pertengahan 1950-an, diperkirakan 20.000 prosedur pembedahan ini digunakan terhadap pasien mental Amerika.

      ● Tahun 1940-an
      Elektroterapi, yaitu terapi dengan cara mengaplikasikan listrik ke otak. Pertama kali di gunakan di rumah sakit Amerika untuk menangani penyakit mental. Pada tahun 1940-1950 dimulainya perawatan masyarakat bagi penderita gangguan mental di Inggris.

      ● Tahun 1947
      Fountain House di New York City memulai rehabilitasi psikiatrik orang yang mengalami sakit mental.

      ●Tahun 1950
      Dibentuk National Association of Mental Health (NAMH) yang merupakan merger dari tiga organisasi, yaitu National Committee for Mental Hygiene, National Mental Health Foundation, dan Psychiatric foundation. Lembaga baru ini melanjutkan misi Beers dengan lebih jelas.

      ● Tahun 1952
      Obat antipsikotik konvensional pertama, yaitu chlorpromazine, diperkenakan untuk menangani pasien schizophrenia dan gangguan mental utama lainnya.

      ● Tahun 1960-an
      Media inggris mulai mengungkapkan kesehatan mental dengan menampilkan orang-orang yang pernah mengalami sakit mental untuk menceritakan pengalaman mereka. Pada masa ini segala hal yang tabu berkaitan dengan gangguan mental mulai dibuka dan dibicarakan secara umum.


      C. GANGUAN MENTAL DIANGGAP SEBAGAI BUKAN SAKIT

      ● Tahun 1961
      Thomas Szasz membuat tulisan yang berjudul The Myth of Mental Illness, yang mengemukakan dasar teori yang menyatakan bahwa “sakit mental” sebenarnya tidaklah betul-betul “sakit”, tetapi merupakan tindakan orang yang secara mental tertekan karena harus bereaksi terhadap lingkungan.

      ●Tahun 1962
      Ada 422.000 orang yang tinggal di rumah sakit untuk perawatan psikiatris di Amerika Serikat.

      ● Tahun 1970
      Mulainya deinstitusional massal. Pasien dan keluarga mereka kembali pada sumber-sumber mereka sendiri sebagai akibat kurangnya program-program bagi pasien yang yang telah keluar dari rumah sakit untuk rehabilitasi dan reintegrasi kembali ke masyarakat.

      ● Tahun 1979
      NAMH menjadi the National Mental Health Association (NMHA).

      ● Tahun 1980
      Munculnya perawatan yang terencana, yaitu dengan opname di rumah sakit dalam jangka waktu yang pendek dan treatmen masyarakat menjadi standar bagi perawatan penyakit mental. ini tidak terlepas dari peranan NMHA yang menggalang dukungan dari akar rumput dan bekerja sama dengan pemerintah dalam menghasilkan The Mental Health Systems act of 1980.

      D. MELAWAN DISKRIMINASI TERHADAP GANGGUAN MENTAL

      ● Tahun 1990
      NMHA memainkan peran penting dalam memunculkan Disabilities Act, yang melindungi warga Amerika yang secara mental dan fisik disable dari diskriminasi di beberapa wilayah, seperti pekerjaan, akomodasi public, transportasi, telekomunikasi, dan pelayanan pemerintah pusat dan local. Sementara itu, teknologi menggambarkan otak digunakan untuk mempelajari perkembangan penyakit mental utama dengan lebih baik lagi.

      ● Tahun 1994
      Obat antipsikotik atipikal yang bpertama diperkenalkan. Ini merupakan obat antipsikotik baru pertama setelah hampir 20 tahun penggunaan obat-obatan konvensional.

      ● Tahun 1997
      Peneliti menemukan kaitan genetic pada gangguan bipolar yang menunjukkan bahwa penyakit ini diturunkan. Berdasarkan sejarah kesehatan mental diatas, dapat disimpulkan bahwa ternyata pandangan masyarakat terhadap apa yang disebut sebagai sakit mental/sakit jiwa/ganguan mental ternyata berbeda-beda dan mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.

      3) Cara berkembangnya keperibadian seseorang.
      a. Menurut Erikson ada delapan jadwal tahapan perkembangan manusia yaitu tahap pertama sampai tahap ke empat terjadi pada masa bayi dan masa kanak-kanak, tahap kelima pada masa adolesen, dan tahap ke enam sampai delapan terjadi pada tahun-tahun dewasa dan usia tua. Tahap-tahap yang berurutan itu tidak ditetapkan menurut suatu jadwal kronologis yang ketat. Erikson berpendapat bahwa setiap anak memiliki jadwal waktunya sendiri, karena apa bila perkembangan itu ditentukan lama berlangsungnya setiap masing-masing tahapan secara cepat akan mengkacaukan perkembangan anak. Lagi pula, setiap tahap tidak dilewati begitu saja dan kemudian ditinggalkan.Tekanan khusus diletakan pada masa adolesen karena pada masa tersebut merupakan peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Apa yang terjadi pada tahap ini sangat penting bagi kepribadian dewasa. Idetitas, krisis-krisis identitas, dan kekacauan identitas merupakan konsep-konsep Erikson yang terkenal. Identitas versus kekacauan identitas tahap kelima dari tahapan perkembangan psikososial Erikson, dimana remaja mencoba megembagkan pemahaman diri yang koheren, termasuk peran yang akan ia jalani di masyarakat. Disebut juga identitas versus kekacauan peran, penjelasan tersebut terdapat dalam bukunya yang terbaru, Toys and Reasons. Meminjam kata-kata Erikson, “…apa saja yang tumbuh memiliki sejenis rencana dasar, dan dari rencana dasar ini muncullah bagian-bagian, setiap bagian memiliki waktu masing-masing untuk mekar , sampai semua bagian bersama-sama ikut membentuk suatu keseluruhan yang berfungsi” (1968,ham. 92). Ini dikenal sebagai prinsip epigenetic (epigenetic principel), suatu istilah yang dipinjam dari ilmu mudigah (embriologi). Dalam Insight and Responsibility (1964) ia membicarakan kebijakan-kebijakan atau kekuatan-kekuatan ego yang muncul selama tahap-tahap yang berturutan.
      b. Freud mungkin merupakan psikolog pertama yang menekankan aspek-aspek perkembangan kepribadian dan terutama menekankan peranan menentukan dari tahun-tahun awal masa bayi dan kanak-kanak dalam meletakkan struktur watak dasar sang pribadi. Memang, Freud berpendapat bahwa kepribadian telah cukup terbentuk pada akhir tahun kelima, dan bahwa perkembangan selanjutnya sebagian besar hanya merupakan elaborasi terhadap struktur dasar itu. Freud yakin bahwa “anak adalah ayah manusia”. Adalah menarik menemukan preferensi kuat pada penjelasan genetic atas tingkah laku orang dewasa semacam itu, sementara Freud sendiri jarang menyelidiki anak-anak kecil secara langsung. Kepribadian berkembang sebagai respon terhadap empat sumber tenaga pokok, yakni : (1) proses-proses pertumbuhan proses-proses pertumbuhan fisiologis, (2) frustasi-frustasi, (3) konflik-konflik, dan (4) ancaman-ancaman.
      Identifikasi dan pemindahan (displacement) adalah dua cara yang digunakan individu untuk belajar mengatasi frustasi-frustasi, konflik-konflik, dan kecemasan-kecemasan.



      Identifikasi
      Identifikasi dapat didefinisikan sebagai metode yang digunakan orang untuk mengambil alih ciri-ciri orang lain dan menjadikan bagian yang tak terpisahkan dari kepribadiannya sendiri. Freud lebih suka memakai istilah idenfikasi daripada imitasi karena ia berpendapat bahwa imitasi mengandung arti sejenis peniruan tingkah laku yang bersifat dangkal dan sementara padahal ia menginginkan suatu kata yang mengandung pengertian tentang sejenis pemerolehan (acquisition) yang kurang lebih bersifat permanen pada kepribadian. Terkadang banyak usaha coba-coba (trial and error) dalam proses identifikasi karena biasanya orang tidak tahu dengan pasti apa yang terdapat pada orang lain yang menyebabkan keberhasilannya.
      Pemindahan
      Apa bila objek asli yang dipilih insting tidak dapat dicapai karena adanya rintangan baik dari luar maupun dari dalam(antikateksis), maka suatu kateksis yang baru akan terbentuk, kecuali jika terjadi suatu represi yang kuat. Apa bila kateksis yang baru itu jga terhalang, maka akan terjadi pemindahan lain, demikian seterusnya, sampai ditemukan objek yang mampu sedikit mengurangi tegangan yang tak tersalurkan. Objek ini selanjutnya akan dikateksiskan sampai kemampuannya untuk mereduksikan tegangan habis, dan segera dicari lagi suatu objek tujuan yang cocok. Di pihak lain kepribadian menjadi kurang lebih stabil dengan bertambahnya usia berkat kompromi antara daya daya dorong insting dan daya perlawanan ego dan superego.
      Arah yang di tempuh pemindahan ditentukan oleh dua factor. Factor-faktor ini adalah (1) kemiripan objek pegganti dengan objek aslinya, dan (2) sanksi-sanksi dan larangan-larangan yang di terapkan masyarakat. Factor kemiripan sesungguhnya adalah taraf sejauh mana kedua objek adalah identic dalam pikiran orang tersebut. Apabila energy psikis tidak dapat dipindahkan dan tidak dapat di distribusikan maka tidak akan terjadi perkembangan kepribadian.

      Mekanisme-mekanisme Pertahanan Ego
      Dibawah tekanan kecemasan yang berlebih-lebihan, ego kadang-kadang terpaksa menempuh cara-cara ekstrem untuk menghilangkan tekanan. Cara-cara itu ditersebut mekanisme pertahanan. Pertahanan-pertahanan yang pokok adalah represi, proyeksi, pembentukan reaksi, fiksasi, dan regresi (Anna Freud, 1946). Semua mekanisme pertahanan mempunyai dua ciri umum, yakni : (1) mereka menyangkal, memalsukan atau mendistrorsikan kenyataan, dan (2) mereka bekerja secara tak sadar sehingga orangnya tidak tau apa yang sedang terjadi.
      REPREsi : Ini merupakan salah satu konsep paling awal dalam psikoanalisis.
      PROYEKSI : kecemasan realitas biasanya lebih mudah di tanggulangi oleh ego dibandingkan kecemasan neurotic atau kecemasan moral.
      PEMBENTUKAN REAKSI : Tindakan defensive ini berupa menggantikan suatu implus atau peranan yang menimbulkan kecemasan dengan lawan atau kebalikannya dalam kesadaran.
      FIKSASI DAN REGRESI : Pada perkembangan normal, seperti akan kita lihat dalam bagian berikut, kepribadian akan melewati serangkaian tahap yang cukup jelas sampai mencapai kematangan.

      Tahap-tahap Perkembangan
      Anak melewati serangkaian tahap yang secara dinamikaberlainan selama lima tahun pertama kehidupan selama suatu periode lima atau enam tahun berikutnya – periode laten – dinamika tersebut kurang lebih menjadi stabil. Masing-masing tahap perkembangan selama lima tahun pertama ditentukan oleh cara-cara reaksi suatu zona tubuh tertentu. Selama tahap pertama, yang berlangsung selama kira-kira satu tahun, mulut merupan daerah pokok kegiatan dinamik. Tahap ini berakhir pada tahun kedua dan disusul dengan tahap phalik dimana organ-organ seks merupakan zona-zona erogen terpenting. Tahap-tahap ini, yakni oral, anal, dan phalik di sebut tahap-tahap prageital.
      TAHAP ORAL : Sumber kenikmatan pokok yang berasal dari mulut adalah makanan.
      TAHAP ANAL : Setelah makan direncanakan, maka sisa makanan menumpuk di ujung bawah dari usus dan secara reflex akan dilepaskan keluar apanila pada otot dubur mencapai taraf tertentu.
      TAHAP PHALIK : Selama tahap perkembangan kepribadian ini yang menjadi pusat dinamika adalah perasaam-perasaan seksual dan agresif berkaitan dengan mulai berfungsinya organ-organ genital.
      TAHAP GEITAL : Kateksis-kateksis dari masa-masa pragebital bersifat narsistik.

      4) Kepribadian Sehat
      Kepribadian adalah ciri, karakteristik, gaya atau sifat-sifat yang memang khas dikaitkan dengan diri kita. Dapat dikatakan bahwa kepribadian itu bersumber dari bentukan-bentukan yang kita terima dari lingkungan, misalnya bentukan dari keluarga pada masa kecil kita dan juga bawaan-bawaan yang dibawa sejak lahir.

      Faktor – faktor yang mempengaruhi kepribadian :
      1. Faktor genetik
      Dari beberapa penelitian bayi-bayi baru lahir mempunyai temperamen yang berbeda, Perbedaan ini lebih jelas terlihat pada usia 3 bulan. Perbedaan meliputi: tingkat aktivitas, rentang atensi, adaptabilitas pada perubahan lingkungan. Sedangkan menurut hasil riset tahun 2007 kazuo Murakami di Jepang menunjukan bahwa gen Dorman bisa distimulasi dan diaktivasi pada diri seseorang dalam bentuk potensi baik dan potensi buruk.

      2. Faktor lingkungan
      Perlekatan (attachment): kecenderungan bayi untuk mencari kedekatan dengan pengasuhnya dan untuk merasa lebih aman dengan kehadiran pengasuhnya dapat mempengaruhi kepribadian. Teori perlekatan (Jhon Bowlby) menunjukkan : kegagalan anak membentuk perlekatan yang kuat dengan satu orang atau lebih dalam tahun pertama kehidupan berhubungan dengan ketidakmampuan membentuk hubungan dengan orang lain pada masa dewasa (Bowlby , 1973).

      3 . Faktor stimulasi gen dan cara berpikir
      Berdasarkan penelitian akhir 2007, yang dilakukan oleh Kazuo Murakami, Ph.D dari Jepang dalam bukunya The Divine message of the DNA. Menyimpulkan bahwa kepribadian sepenuhnya dikendalikan oleh gen yang ada dalam sel tubuh manusia. Gen tersebut ada yang bersipat Dorman (tidur) atau tidak aktip dan yang bersipat aktip. Bila kita sering menyalakan gen yang tidur dengan cara positif thinking maka kepribadian dan nasib kita akan lebih baik. Jadi genetik bukan sesuatu yang kaku, permanen dan tidak dapat dirubah.



      Sehat merupan suatu kondisi dimana seseorang dalam keadaan yang baik atau normal secara rohani, jasmani dan mental, dapat berfikir secara normal atau dapat mengendalikan respon-respon atau stimulus-stimulus yang dia terima.

      karakteristik Sehat
      1. Memfokuskan perhatian kepada individu sebagai manusia.
      2. Memandang sehat dalam konteks lingkungan internal dan ektersnal individu.
      3. Sehat diartikan sebagai hidup yang kreatif dan produktif. Sehat bukan merupakan suatu kondisi tetapai merupakan penyesesuaian yang dilakukan oleh individu, dan juga bukan merupakan suatu keadaan tapi merupakan suatu proses yang dijalani dalam kehidupan individu.

      Ciri-ciri individu yang Normal atau sehat
      1. Bertingkah laku menurut norma-norma social yang diakui.
      2. Mampu mengelola emosi
      3. Mampu mengaktualkan potensi-potensi yang dimiliki.
      4. Dapat mengakui kebiasaan-kebiasaan social
      5. Dapat mengenali risiko dari setiap perbuatan dan kemampuan tersebut digunakan untuk menuntun tingkah lakunya.
      6. Mampu menunda keinginan sesaat untuk mencapai tujuan jangka panjang.
      7. Mampu belajar dari pengalaman
      8. Biasanya gembira.

      Kepribadian sehat
      Tekanan begitu banyak pada penyembuhan konflik-konflik yang ada hubungannya dengan masa kanak-kanak dan luka-luka emosional masa lampau (traumatis yang di alami) dibandingkan dengan pada pelepasan sumber-sumber yang tersembunyi dari bakat, kreativitas, energi, dan dorongan. Fokusnya adalah kearah mana seseorang dapat menjadi, bukan kearah apa yang telah terjadi atau ada apa pada saat ini.
      Para ahli psikologi humanistic semakin kritis terhadap tradisi-tradisi ini, karena mereka percaya bahwa behaviornisme dan psikoanalisis memberikan pandangan-pandangan terbatas tentang kodrat manusia, mengakibatkan puncak-puncak yang akan didaki oleh orang-orang yang memiliki potensi. Individu digambarkan sebagai suatu organisme yang tersusun baik, teratur, dan ditentukan sebelumnya, dengan banyak spontanitas, kegembiraan hidup, dan kreativita, seperti suatu alat pengatur panas. Psikoanalisis telah memberi kepada kita hanya sisi yang sakit atau pincang dari kodrat manusia karena hanya berpusat pada tingkah laku yang neurotis dan psikotis. Freud dan orang-orang yang mengikuti ajaran-ajarannya mempelajari kepribadian yang terganggu secara emosional, bukan kepribadian yang sehat – yang paling buruk dari kodrat manusia, bukan yang paling baik. Para ahli behavior melihat individu sebagai orang-orang yang memberikan respon secara pasif terhadap stimulus-stimulus dari luar dan oleh ahli-ahli psikoanalisis sebagai korban dari kekuatan-kekuatan biologis dan konflik-konflik masa kanak-kanak.
      Kebanyakan para ahli psikologi pertumbuhan tidak menyangkal bahwa stimulus-stimulus dari luar, instink-instink dan konflik-konflik masa kanak-kanak mempengaruhi kepribadian, namun mereka tidak percaya bahwa manusia merupakan korban yang tak dapat berubah dari kekuatan-kekuatan ini. Individu dapat dan harus mengatasi masa lampau, kodrat biologis, dan ciri-ciri lingkungan. Individu harus berkembang dan tumbuh melampaui kekuatan-kekuatan ini yang secara pontesial menghambat. Kodrat manusia adalah optimistis dan penuh harapan. Tidak ada sakit emosional hanya merupakan suatu langkah pertama yang diperlukan untuk pertumbuhan dan pemenuhan, tidak adanya tingkah laku neurotis atau psikotis tidak cukup untuk menilai seseorang sebagai pribadi yang sehat.

      Daftar Puataka

      1. Psikologi Kepribadian I, Calvin S. Hall & Gerdner Lindzey
      2. Human Developmen II, Papalia Olds Feldmen
      3. Psikologi Pertumbuhan, Duane Schultz
      4. Jurnal Konsep Kepribadian, Iyus Yosep, SKp., MSi, Fakultas Ilmu Keperawatan UNPAD
      5. Kesehatan mental, konsep,cakupan dan perkembangannya, Siswanto,S.Psi., M.SI.